Ketika Rezeki Datang Tanpa Dikejar: Pelajaran tentang Tawakal dan Ketakwaan
26/02/2026 | Penulis: Admin | Akate
Ketika Rezeki Datang Tanpa Dikejar: Pelajaran tentang Tawakal dan Ketakwaan
Sahabat, Ada sebuah ungkapan yang sering kita dengar: semakin dikejar terasa menjauh, ketika tenang justru mendekat. Ungkapan ini seakan menggambarkan hubungan manusia dengan rezekinya.
Tidak sedikit orang yang bekerja siang dan malam, memeras tenaga dan pikiran demi meraih penghidupan yang layak. Namun semakin gelisah ia mengejar, justru semakin terasa berat langkahnya. Sebaliknya, ketika usaha dilakukan dengan wajar dan hati disertai tawakal kepada Allah SWT, rezeki terasa datang dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Kisah tentang hal ini diceritakan oleh Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Syarawi dalam kitab Qashashus Shahabati was Shalihin. Beliau mengisahkan pengalaman seorang sahabat bernama Urwah bin Udzainah.
Ujian Kesempitan Hidup
Saat menetap di Madinah, Urwah bin Udzainah mengalami kesulitan ekonomi. Sahabat-sahabatnya menyarankan agar ia menemui khalifah saat itu, Hisyam bin Abdul Malik, yang dikenal memiliki hubungan baik dengannya.
Mereka berkata, “Engkau memiliki kedekatan dengan Amirul Mukminin. Pergilah menemuinya, semoga engkau mendapatkan kebaikan.”
Dengan harapan dan ikhtiar, Urwah pun melakukan perjalanan menuju Syam. Ia diterima dengan baik oleh sang khalifah. Ketika ditanya tentang keadaannya, ia jujur mengakui sedang berada dalam kesempitan.
Namun, alih-alih langsung memberikan bantuan, sang khalifah justru mengingatkan Urwah pada bait syair yang pernah ia ucapkan:
"Sungguh aku mengetahui, dan boros bukanlah tabiatku, bahwa rezekiku pasti akan datang menghampiriku."
Ucapan itu membuat Urwah tersentak. Ia menyadari bahwa dirinya seakan lupa pada keyakinan yang pernah ia ungkapkan sendiri. Ia pun berpamitan pulang seraya berkata, “Semoga Allah membalas kebaikanmu. Engkau telah mengingatkanku saat aku lupa.”
Rezeki yang Datang Tanpa Disangka
Setelah kepergian sahabatnya, Hisyam bin Abdul Malik merenungi kembali pertemuan tersebut. Ia merasa sikapnya kurang tepat. Hatinya tergerak untuk mengirimkan hadiah dan bantuan sebagai bentuk penyesalan dan penghormatan atas persahabatan mereka.
Utusan khalifah pun berangkat menyusul Urwah. Perjalanan itu tidak mudah, karena Urwah terus berpindah tempat. Hingga akhirnya, utusan tersebut berhasil menemukannya di rumah dan menyerahkan hadiah dari sang khalifah.
Mendengar kabar itu, Urwah menyempurnakan syairnya:
"Aku berusaha mengejarnya, maka justru ia menyusahkanku. Namun ketika aku duduk tenang, ia datang kepadaku tanpa memberatkanku."
Sebuah pelajaran mendalam tentang rezeki dan tawakal.
Rezeki dan Ketakwaan
Kisah ini bukan mengajarkan kita untuk bermalas-malasan atau meninggalkan usaha. Islam memerintahkan ikhtiar. Namun usaha lahir harus disertai ikhtiar batin: ketakwaan dan tawakal.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Thalaq ayat 2–3 bahwa siapa yang bertakwa kepada-Nya, niscaya Allah akan membukakan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya.
Artinya, rezeki bukan semata hasil kecerdikan atau kekuatan manusia, tetapi karunia Allah yang diberikan sesuai dengan hikmah-Nya.
Harta Adalah Amanah, Bukan Tujuan
Dalam konteks kehidupan saat ini, kita sering kali terlalu cemas terhadap urusan dunia hingga melupakan keseimbangan ibadah. Padahal, ketika rezeki datang, di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat, infak, dan sedekah.
Rezeki yang berkah bukan hanya yang banyak, tetapi yang membawa ketenangan dan kebermanfaatan. Melalui zakat dan sedekah yang ditunaikan secara amanah—termasuk melalui BAZNAS Kota Cirebon—harta menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus membantu sesama.
Jangan sampai kekhawatiran terhadap rezeki membuat kita lalai dari kewajiban. Karena sering kali, justru ketika hati sudah tidak bergantung kepada manusia dan sepenuhnya berserah kepada Allah, pertolongan itu datang dengan cara yang tak terduga.
Semoga kita termasuk hamba yang giat berikhtiar, kuat bertawakal, serta istiqamah dalam menunaikan zakat, infak, dan sedekah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Artikel Lainnya
Cara Bersedekah Orang Miskin Menurut Hadis – Lengkap dan Mudah
4 Teladan Hamba Allah yang Membungkam Alasan Malas Beribadah
Kultum : Hikmah Nuzulul Quran di Bulan Ramadhan
8 Golongan Orang-orang yang Berhak Menerima Zakat: Mengalirkan Kebaikan untuk Kehidupan yang Lebih Adil
Kultum Ramadhan Singkat Malam Nuzulul Qur’an, Momentum Memperbaiki Akhlak
Hukum Membayar Fidyah dengan Uang dan Cara Menunaikannya dengan Tepat
Kultum Singkat Ramadhan: Nuzulul Qur’an dan Pentingnya Memperbaiki Akhlak
Besaran Zakat Fitrah 2026: 2,8 Kg Beras atau Rp45.000 per Jiwa – Ini Cara Membayarnya Melalui BAZNAS Kota Cirebon
Rahasia Besar di Balik Puasa Sunnah Senin-Kamis & Ayyamul Bidh: Manfaat, Niat, dan Keutamaannya
Jadwal Buka Puasa Hari Ini Kota Cirebon dan Sekitarnya
Bolehkah Bersedekah Saat Masih Punya Utang? Ini Penjelasanya
Malam Nisfu Sya’ban: Rahasia Doa Dikabulkan yang Jarang Diketahui
Imsak Hari Ini untuk Wilayah Cirebon dan Sekitarnya 22 Ramadhan 1447 H
Keutamaan Bulan Sya‘ban: Momentum Meningkatkan Ibadah dan Kepedulian Sosial
Sedekah Sembunyi atau Terang-terangan, Mana yang Lebih Utama? Ini Penjelasan Islam Lengkapnya

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Cirebon.
Lihat Daftar Rekening →